Kamis, 24 Januari 2013

Pengembangan Metode Kultur Jaringan Skala Rumah Tangga (Development of Economic Home-Scale Tissue Culture)


Abstrak. Kultur jaringan merupakan perkembangbiakan sel, jaringan, dan organ tanaman pada media padat atau cair yang dilakukan pada lingkungan aseptik dan terkendali. Umumnya, kultur jaringan dilakukan pada skala laboratorium namun dapat juga diaplikasikan pada skala rumah dengan memodifikasi alat dan bahan yang digunakan serta lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan eksplan. Namun demikian, belum ada penelitian ilmiah mengenai perbedaan antara kultur jaringan skala laboratorium dengan rumah. Panci presto (tekanan 13 lbs, waktu 5-10 menit, dan suhu 105-120°C) digunakan untuk mensterilisasi media MS0 pada skala rumah sebagai modifikasi autoklaf (tekanan 15 lbs, waktu 15 menit, dan suhu 121°C). Tingkat kontaminasi yang terjadi bergantung pada lokasi dan lama penyimpanan media (P interaksi: 0.000; Anova Two Way). Tingkat kontaminasi berkorelasi positif dengan lamanya media disimpan (P: 0.000, R2: 0.484; Spearman Correlation Test) dan kelembaban lingkungan (P: 0.01, R2: 0.234, Spearman Correlation Test). Sterilisasi eksplan menunjukkan bahwa penggunaan Bayclin® 10% dan Tween® 20 memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan Sunlight®, Bayclin® 10%, dan Tween® 20. Laminar air flow yang digunakan untuk inisiasi skala laboratorium dimodifikasi menjadi kotak plastik 220 L yang diberi exhaust fan pada skala rumah. Media MS dengan komposisi zat pengatur tumbuh BAP dan NAA masing-masing 0.1 ppm digunakan sebagai media inisiasi. Hasil inisiasi menunjukkan lamanya waktu pengulturan memiliki korelasi positif dengan laju kenaikan panjang eksplan (P: 0.000; R2: 0.789; Uji Korelasi Spearman) dan pertambahan jumlah daun (P: 0.000, R2: 0.758; Uji Korelasi Spearman). Inisiasi dan subkultur pada skala laboratorium dan rumah menunjukkan hasil dan performa yang tidak berbeda nyata terhadap suhu, kelembaban, intensitas cahaya, laju pertambahan panjang eksplan, pertambahan jumlah daun, dan pertambahan jumlah tunas.

Abstract. Plant tissue culture refers to growing and multiplication of cells, tissues, and organs of plants on defined solid or liquid media under aseptic and controlled environment. In general, tissue culture is performed on lab-scale but actually it can also be done at home-scale by modification of materials used, and optimizing environment condition. Pressure cooker (Pressure of 13 lbs, 5-10 minutes, and temperature of 105-120°C) was used to sterilize media on the home-scale as a modification of an autoclave (pressure of 15 lbs, 15 minutes, and temperature of 121°C). Contamination level of medium sterilized in home-scale showed a significant difference with lab-scale, depending on where the location of sterilization and length of storage time (P interaction: 0.000; Two Way Anova Test). The longer media stored the greater likelihood of contamination (P: 0.000, R2: 0.484; Spearman Correlation Test). Contamination could also occurs because of high humidity environment (P: 0.01, R2: 0.234; Spearman Correlation Test). Explant sterilization using Bayclin® 10% and Tween® 20 (method B) showed better results compared to Sunlight®, Bayclin® 10%, and Tween® 20 (method A) in explant decontamination. Laminar air flow was substituted with modified inverted 220 L plastic box with an exhaust fan for initiation stage. Murashige and Skoog (MS) supplemented with 0.1 ppm of BAP and NAA was used as plant growth regulators. The result of initiation stage showed that culturing time influenced the increment of explants height (P: 0.000; R2: 0.789;Spearman Correlation Test) and leaf number (P: 0.000, R2: 0.758; Spearman Correlation Test). Initiation and subculture in laboratory-scale and home-scale showed not  significantly difference depending on temperature, humidity, light intensity, increment of explants height, leaf number, and shoot number.

Keywords: Economic, Home-Scale, Saintpaulia ionantha.

Pendahuluan

Pemenuhan tanaman dalam jumlah yang besar dalam waktu yang relatif singkat dapat dilakukan dengan teknik kultur jaringan. Umumnya teknik kultur jaringan dilakukan pada skala laboratorium karena membutuhkan kondisi aseptik dan dikerjakan oleh tenaga ahli. Akan tetapi, seiring dengan kebutuhan kultur jaringan yang lebih bernilai ekonomis, teknik ini mampu diaplikasikan pada skala rumah tangga dan dikerjakan oleh masyarakat awam. Sebagai contoh terdapat sebuah organisasi yang telah merintis kultur jaringan skala rumah tangga bernama ”Kitchen Culture Education Technologies Inc.” Organisasi ini sudah pernah mengembangkan kultur jaringan skala rumah tangga dengan menggunakan tanaman Strelitzia reginae, Sarchochillus Elizabeth, Saintpaulia sp., dan Dionae muscipula (www.kitchencultureeducation.org). Selain itu, di Indonesia juga telah dilakukan pelatihan kultur jaringan skala rumah tangga (http://dapurkuljar.blogspot.com/).
Modal yang dibutuhkan untuk skala rumah tangga tidak terlalu besar tetapi tetap dapat memenuhi kebutuhan alat, bahan, dan pelaksanaan kultur jaringan. Alat dan bahan yang semula membutuhkan biaya yang besar pada skala laboratorium dapat dimodifikasi sehingga biaya lebih terjangkau. Berdasarkan berbagai penelitian kultur jaringan skala rumah tangga yang telah dilakukan, belum ada yang membandingkan performa dan hasil secara ilmiah dari sisi metode, peralatan, dan material yang digunakan antara kultur jaringan skala rumah tangga dan laboratorium. 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar